Pengalaman Melewati Nyepi Caka 1941 di Denpasar

Halo Brosis, Kali ini saya mau bercerita tentang pengalaman melewati hari raya Nyepi tahun caka 1941 di Denpasar. Ini pertama kalinya saya Nyepi di kampung orang karena biasanya saya selalu pulang kampung kalau hari raya Nyepi tiba. Astungkara Nyepi tahun ini bisa dilewati dengan baik tanpa ada halangan sedikitpun.

Pengalaman Melewati Nyepi Caka 1941 di Denpasar
Foto: nusabali.com
Ini merupakan keputusan saya untuk melewati hari raya Nyepi di Denpasar karena ingin merasakan bagaimana rasanya Nyepi di kampung orang lain meskipun masih di Bali. Sejak tahun 2005 saya tinggal di Denpasar baru Nyepi tahun 2019 caka 1941 ini saya bisa Nyepi di Denpasar.

Awalnya rencana sudah disusun dengan baik, untuk hari Pengerupukan atau sehari sebelum Nyepi mulai sore hari akan menonton pawai ogoh-ogoh di lapangan Puputan badung atau di Catus Pata / titik nol Denpasar. Namun sejak siang hujan turun tanpa henti sampai sore, nah saat mulai malam ternyata hujan reda. Maksud hati mau datang kesana dengan memesan ojek online namun tidak bisa mendapatkan driver.

Pada akhirnya saya tidak jadi nonton pawai ogoh-ogoh padahal disana ada ogoh-ogoh yang banyak dinantikan oleh orang-orang yakni ogoh-ogoh banjar Tainsiat yang tahun ini membuat Kumbakarna dan juga banjar Gemeh yang membuat ogoh-ogoh Sang Maungpati, kedua banjar ini memang terkenal setiap tahun selalu menciptakan ogoh-ogoh yang keren dan dinantikan oleh banyak warga Denpasar dan sekitarnya.

Hari pun malam dan saya tidak kemana-mana, maka saya putuskan untuk membuat bekal untuk jaga-jaga kalau terjadi apa-apa saat saya menjalani puasa 24 jam. Saya masak ayam bakar dan juga telor rebus dua butir. Sebenarnya saya sedang diet dan juga biasanya saya selalu puasa 24 jam saat Nyepi, jadi saya tidak makan atau minum apa-apa saat Nyepi kecuali saat sarapan (sahur) sebelum mulai puasa. Jadi ayam sama telor cuma buat jaga-jaga saja bukan untuk dimakan saat Nyepi.

Setelah itu malam pun telah semakin larut semua pekerjaan sudah saya selesaikan saatnya tidur dan setel alarm pukul 05.00 Wita untuk bisa mempersiapkan sahur untuk besok. Pagi pun tiba dan saya bangun sesuai bunyi alarm. Saya pun bergegas minum air dan juga ke dapur untuk membuat nasi dan ini juga cuma buat jaga-jaga saja.

Setelah itu cuci muka, sikat gigi dan setelah itu mulai membuat sarapan sehat dengan shake, teh hangat, satu pisang dan satu butir telur putihnya saja. Setelah itu mulai menikmati sarapan yang sehat ini dan berharap bisa bertahan selama 24 jam atau sampai pagi besok saat buka puasa / Ngembak Gni tiba.

Setelah selesai sarapan dan waktu menunjukkan pukul 06.00 Wita dan saya pun mulai sembahyang. Setelah sembahyang maka mulailah acara puasa Nyepi. Saat Nyepi ada yang namanya Catur Brata Penyepian yang terdiri dari empat bagian yakni Amati Gni tidak menyalakan api, Amati karya tidak bekerja, Amati Lelungaan tidak bepergian dan Amati Lelanguan tidak mencari hiburan.

Dari keempat itu sudah hampir semua bisa saya jalankan, karena selama Nyepi saya hanya diam di kamar saja dan saat itu juga di Denpasar diguyur hujan sepanjang hari jadi tidak bisa beraktifitas di luar. Meskipun tidak ada hujan saya tetap akan berada di kamar saja karena untuk menjalankan Catur Brata Penyepian. Kadang diam di kamar saja tanpa melakukan apapun, waktu terasa lama, maka saya jujur saja saya mendengarkan musik dan juga main game untuk menghilangkan rasa bosan.

Nah kembali ke urusan perut, sejak pagi sampai sore saya hampir tidak pernah merasakan perut saya keroncongan, biasanya saat puasa pasti lapar dan perut keroncongan. Nah dengan sarapan sehat itu saya tidak terlalu merasakan lapar, jadi saya bisa melewati pagi sampai sore dengan nyaman. Setelah sore saya pun mandi dan setelah madi tepat pukul 18.00 Wita saya sembahyang lagi. Mulai sore mulut mulai terasa aneh dan tubuh mulai terasa sedikit lemas, namun masih bisa bertahan.

Nah kebetulan saya sendiri saja di kamar karena istri saat Nyepi harus bekerja di Hotel jadi tidak ada yang diajak ngobrol, namun malamnya kami sempat telponan untuk sekedar bertanya kabar saja dan malamnya saya pun masih puasa, untuk menghilangkan rasa bosan sebelum tidur saya kembali mendengarkan musik dan main game.  Rasa ngantuk pun tiba, pukul 20.30 Wita saya mulai tidur dan tidur pun tidak da masalah, baru saja kepala ini nyentuh bantal udah langsung gak sadar dan menunggu besok pagi untuk buka puasa.

Pagi pun tiba dan ini namanya Ngembak Gni / sehari setelah Nyepi karena sebelumnya kita Amati Gni, tak sabar ingin makan dan minum karena sudah 24 jam sejak makan dan minum terakhir, seperti biasa baru bangun minum air putih dulu, setelah itu baru dilanjutkan dengan buka puasa yang sehat seperti saat akan memulai puasa kemarin.

Nah itulah sedikit cerita saya saat melewati hari raya Nyepi di Denpasar, ternyata rasanya nyaman dan tidak ada halangan sedikitpun sehingga saya bisa melewati puasa 24 jam dengan mudah dan ini adalah puasa saya yang ketujuh kalinya.

Belum ada Komentar untuk "Pengalaman Melewati Nyepi Caka 1941 di Denpasar"

Posting Komentar

Silakan berikan komentar Anda dengan baik, silakan gunakan Bahasa Indonesia dengan baik supaya mudah dibaca oleh pengunjung lain, Jangan ada Spam dan link aktif. Terimakasih

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel