Cerita Ngegrab Bike ke Bandara Internasional Ngurah Rai Bali

Advertisement
Advertisement
Halo Brosis, jumpa lagi dengan saya, kali ini saya mau sedikit bercerita tentang perjalanan Ngebid, sebelumnya saya libur 3 hari karena harus menemani paman saya yang opname di rumah sakit dua hari dan kemudian satu haru menemani istri yang sedang libur. Hari ini saya mendapat satu penumpang dengan tujuan dari Jalan Tukad Balian menuju Bandara Ngurah Rai Bali.

Cerita Ngegrab Bike ke Bandara Internasional Ngurah Rai Bali

Seperti biasa ketika saya on-bid saya selalu memulai dari rumah, mungkin karena sudah rezeki menghidupkan aplikasi dan sudah siap untuk menerima pekerjaan, saya sudah dapat satu order GrabBike dari jalan WR Supratman menuju jalan Tukad Balian. Sampai di tujuan di jalan Tukad Balin sudah sampai tujuan dan penumpang sudah membayar. Saya pun balik lagi mau menuju Denpasar.

Saat itu saya pun mendapat order di dekat sana, tanpa saya baca kemana tujuannya langsung saya terima dan langsung menuju titik penjemputan. Setelah itu saya sedikit bingung untuk menjemput karena yang tampil di map dengan kenyataan tidak tepat. Seharusnya saya menjemput di Renon Residence yang letaknya di pinggir jalan, namun map mengarahkan saya di titik yang lain yakni di D'uma Residence yang harus masuk gang yang jaraknya memang tidak terlalu jauh yakni sekitar lagi 150 m dari Renon Residence.

Setelah bingung saya pun sempat bertanya kepada orang yang ada di dekat D'uma Villa tersebut, namun bapak itu tidak tahu tentang Renon Residence. Setelah itu saya keluar dari gang itu dan saling inbox dengan penumpang tersebut. Setelah itu datanglah seorang pria menghampiri saya dan ternyata dialah penumpangnya.

Setelah itu mulai membahas tujuannya yakni Bandara Ngurah Rai, saya pun bilang ke Bapak itu "mau lewat by pass atau jalan tol pak? Bapak tidak buru-buru kan? kalau lewat Tol saya tidak punya unik (uang Elektronik) untuk bayar Tol" dia pun menjawab "Gak buru buru sih, pesawatnya pukul 16.30 Wita" saya pun menjawab "baiklah kalau begitu bisa lewat bay pass saja, karena satu jam cukup untuk ke bandara dari sini" saat itu jam digital di NMax saya menunjukkan pukul 15.30 Wita. Saya pun sempat bertanya lagi "bapak mau  balik kemana pak"? dia pun menjawab "saya mau balik ke Surabaya"

Setelah itu helm pun dipakai oleh penumpang dan sebelum berangkat Bapak itu bilang ke saya "Pak kalau tahu tempat untuk beli oleh-oleh nanti mampir bentar ya pak" saya pun jawab "Wah maaf pak, saya kurang tahu tempat seperti itu karena saya jarang lewat sini" dia pun berkata "oh gitu ya, okedeh jalan saja dulu" saya pun bergegas berjalan.

Selama perjalanan masih sempat membahas tentang toko oleh oleh itu, maksud saya kalau lewat By pas kemungkinan akan menemukan toko oleh-oleh yang lebih murah. Namun setelah sampai di simpang Benoa dan pas lampu merah saya pun berhenti. Namun Bapak itu berubah pikiran dan meminta untuk lewat tol saja dan dia punya kartu Unik untuk bayar pintu tol, saya pun memenuhi permintaannya dan berbelok ke kiri untuk menuju pintu tol.

Jujur saja saya bilang ke Bapak itu kalau saya belum pernah lewat tol untuk naik roda dua, jadilah saya dan dia sama-sama tidak tahu, istilah Balinya buta jak bongol lewat tol 😅. Nah karena masih meraba-raba saya pun bawa motornya tidak terlalu ngebut. Karena belum pernah lewat sana dan akhirnya saya salah masuk, ke jalur roda empat, untung belum jauh, jadi bisa balik. Dan disana juga ada bapak naik mobil memberi tahu saya kalau saya salah jalur.

Akhirnya saya mundur teratur dan perlahan untuk menuju jalur tol khusus roda dua. Setelah masuk jalur roda dua dengan benar akhirnya melanjutkan perjalanan, masuk pintu tol dibayar oleh penumpang. Setelah melanjutkan perjalanan untuk menuju Bandara Internasional Ngurah Rai Bali keberangkatan domestik. Ditengah jalan hampir kelewatan lagi, untuk menuju Bandara belok kanan saya hampir lurus menuju ke Nusa Dua, untuk penumpangnya juga baca plang yang ada.

Setelah itu perjalanan pun lancar dan sudah tiba di pintu keluar tol untuk menuju Bandara, tanpa ada halangan yang berarti akhirnya saya melanjutkan menuju parkir sepeda motor bandara, namun karena ingat dengan pesan bapak itu untuk berhenti di toko oleh-oleh, maka saya berhenti di sebelum lampu merah tuban deket patung kuda, di sana ada oleh-oleh pie susu, bapak itu pun bergegas menyeberang ke toko itu.

Setelah datang dari sana dia pun berkata kalau harga barang di sana sama dengan harga yang ada di bandara. Saya pun bilang, waduh maaf pak saya tidak tahu, mungkin karena lokasinya sudah dekat bandara jadi harganya agak mahal dan sama dengan yang di bandara. Setelah itu kamu melanjutkan perjalanan menuju bandara, saya kira pintu masuk untuk roda dua masih sama di tempat lama dimana tempat masuk untuk mobil.

Ternyata sampai disana saya disuruh menepi dan ditanya "mau ngedrop saja? lokal atau domestik?" saya pun jawab "Iya pak saya ngedrop saja, keberangkatan domestik" dan dia pun menjelaskan bahwa untuk jalur sepeda motor sudah berubah, silakan cari jalur untuk sepeda motor dengan menyuruh saya balik lagi menuju jalan yang ada pagar besinya.

Setelah mengikuti jalur tersebut akhirnya saya sampai di parkir roda dua, sampai disana saya juga masih bingung, ini bawa penumpangnya sampai dimana? akhirnya saya bertanya ke driver grabbike yang ada disana. "Permisi pak, apakah antar penumpang sampai disini saja?" dia pun menjawab "Iya betul pak sampai disini saja" saya pun jawab "oh iya pak terimakasih"

Akhirnya penumpang pun turun, setelah itu membayar dengan uang Rp 50.000 dia menyuruh saya untuk membawa kembaliannya lagi Rp 24.000 tapi saya tidak mau karena terlalu banyak. Akhirnya saya mau menukar dulu uang tersebut tapi bapak itu tetap bilang suruh saya bawa aja kembaliannya. Namun saya bilang tidak enak dan akhirnya saya kembalikan dengan uang kecil yang ada di kantong saya. Kalau tidak salah jumlahnya hampir Rp 20.000 lebih karena dalam uang itu ada nominal Rp 5.000 dan kurang lebih 8 lembar nominal Rp 2.000.

Setelah itu helm dikembalikan dan dia bilang ke saya, gak kelebihan ini kembaliannya? karena saya tidak ngecek dan dia juga tidak ngecek jumlah uang itu. Setelah itu dia pun berjalan menuju keberangkatan domestik. Nah berapa pun jumlah uang itu saya harap tidak membuat Bapak tersebut kecewa atas pelayanan saya ini sebagai grab driver yang pertama kali lewat Tol Bali Mandara dan juga mengantar penumpang ke Bandara Ngurah Rai.

Jika saja Bapak itu bisa menemukan tulisan ini dan membacanya dari awal sampai akhir, saya harap dia bersedia untuk meluangkan waktu untuk menulis kesannya disini dan bisa memaklumi pelayanan saya saat itu, maafkan saya pak yang belum maksimal saat mengantar ke Bandara Ngurah Rai Bali untuk balik ke Surabaya.

Setelah itu aplikasi saya matikan karena saya tidak siap menerima penumpang karena BBM sudah menipis dan juga kurang suka mencari penumpang di daerah sana. Akhirnya saya langsung pulang ke Denpasar dan isi BBM dulu di dekat sana.

Setelah itu sampai di jalan Teuku Umar aplikasi Grab Driver saya hidupkan lagi. Setelah simpang enam dapat satu order GrabFood, langsung menuju titik pembelian, namun sampai sana warung tutup yang pesan pun membatalkan order GrabFood. Setelah itu balik lagi menuju ke rumah, sampai di jalan Diponogoro dapat order GrabBike menuju Waturenggong.

Penumpang menunggu di depan Ramayana dan saya pun menunggu di sana sebelum lampu merah. Namun penumpang tidak langsung ketemu, setelah saya pastikan dia penumpang maka saya suruh orang untuk memencet tombol lampu merah tersebut supaya penumpang bisa menyeberang. Saat sudah di depan saya, saya tanya namanya, ternyata benar dia yang pesan GrabBike. Namun dia bilang saat itu merasa ragu karena plat nomor kendaraan saya beda. Saya pun tanya ke dia, emangnya berapa nomor plat yang terlihat di aplikasi? dia bilang DK 78XX VO dan itu adalah nomor plat kendaraan saya yang saya daftarkan hari ini.

Baca juga: Cara Mengubah Plat Nomor Kendaraan GrabBike Secara Online

Saya pun jelaskan ke Ibu itu kalau itu adalah nomor plat kendaraan yang baru milik saya, hari ini saya ganti plat yang prosesnya butuh waktu 3 hari, makanya saya masih berani narik dengan motor yang lama, namun faktanya hari ini plat nomor kendaraan saya sudah berubah di aplikasi. Akhirnya Ibu itu mengerti dan mau berangkat dengan saya menuju jalan Waturenggong.

Saya harap Ibu itu tidak membuat review yang berlebihan karena perbedaan nomor plat kendaraan yang saya pakai dengan yang ada di aplikasi. Karena seperti berita yang saya baca, gara-gara beda plat nomor kendaraan yang dipakai sama yang diaplikasi, akun ojek online disuspend bahkan tidak bisa dipakai lagi untuk narik.

Untuk Ibu yang memakai GrabBike saya tadi sore, saya harap Ibu bisa mengerti dan tidak salah sangka dengan saya karena saya tidak ada maksud untuk berbuat tidak baik dengan menggunakan kendaraan yang berbeda dengan di aplikasi.

Nah itulah sedikit cerita saya ngebid hari ini Jumat 4 Mei 2018 semoga bermanfaat dan saya ucapkan terimakasih karena sudah membaca cerita saya ini.
Advertisement
BERITA TERKAIT :

2 Responses to "Cerita Ngegrab Bike ke Bandara Internasional Ngurah Rai Bali"

  1. Semangat slalu bro... rejeki lancar, Om svaha. Selalu hati2 dsn waspada

    BalasHapus
  2. ngeGrab selalu punya cerita menarik... tapi saya belum pernah manfaatin yang versi roda dua

    BalasHapus

Silakan berikan komentar Anda dengan baik, silakan gunakan Bahasa Indonesia dengan baik supaya mudah dibaca oleh pengunjung lain, Jangan ada Spam dan link aktif. Terimakasih