Makna Ngejot Menurut Hindu Bali

Advertisement
Advertisement
Om Swastiastu, kali ini kembali lagi saya akan membahas tentang tradisi agama Hindu yang ada di Bali yang sudah dilaksanakan sejak zaman dahulu kala. Kali ini saya akan mencoba menulis ulang tentang tradisi Ngejot atau Mebanten Saiban menurut Hindu di Bali yang masih ada kaitanya dengan tulisan saya sebelumnya yakni menghabiskan makanan adalah salah satu Bakti kepada Ibu. Sebenarnya sudah banyak yang pernah menulis tentang tradisi Ngejot ini, namun saya akan menulisnya lagi sebagai pelengkap dari isi blog saya dan juga lebih condong kepada cara Ngejot menurut orang Buleleng dan saya tidak akan mencari contoh jauh-jauh dari tempat tinggal, saya akan memakai contoh kebiasaan Ngejot yang ada di rumah saya yang biasanya dilakukan oleh Ibu saya setelah selesai masak.
Contoh Banten Saiban di Desa saya sangat sederhana
Mesaiban atau Ngejot juga disebut dengan Yadnya Sesa, merupakan yadnya yang paling sederhana sebagai realisasi Panca Yadnya yang dilaksanakan oleh umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Mesaiban atau Mejotan biasanya dilakukan setelah selesai memasak atau sebelum menikmati makanan dan sebaiknya memang Mesaiban dahulu, baru makan. Seperti yang dikutip Bhagawadgita (percakapan ke-3, sloka 13) yakni:
YAJNA SISHTASINAH SANTO, MUCHYANTE SARVA KILBISHAIH, BHUNJATE TE TV AGHAM PAPA, YE PACHANTY ATMA KARANAT
Artinya : Yang baik makan setelah upacara bakti, akan terlepas dari segala dosa, tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi diri sendiri, mereka ini sesungguhnya makan dosa.

Sebenarnya apa makna dan tujuan dari Ngejot atau Mesaiban ini? Ngejot merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu yang menuntut umat untuk selalu bersikap anresangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan ambeg para mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri. Ngejot ini juga bermakna bahwa manusia setelah selesai memasak wajib memberikan persembahan berupa makanan, karena makanan merupakan sumber kehidupan di dunia ini yang berasal dari Tuhan yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa..

Makanan yang bisa kita nikmati itu tidak datang begitu saja, makanan itu diciptakan oleh Tuhan melalui perantara tanah, Petani dan lain-lain yang semuanya merupakan ciptaan Tuhan Jadi tujuannya Mesaiban yaitu sebagai wujud syukur atas apa yang di berikan Hyang Widhi kepada kita dan bisa menikmatinya sebagai sumber energi untuk berbuat kebaikan. Sebagaimana diketahui bahwa Yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasi-Nya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya.

Setelah tahu makna dan tujuan dari Ngejot atau Mebanten Saiban maka kamu juga perlu tahu apa saja sarana untuk Ngejot ini, saya yakin banyak yang sudah tahu apa lagi kaum Ibu-ibu yang sudah terbiasa dengan kegiatan Ngejot ini, namun saya akan tetap tulis lagi di sini apa saja sarana Ngejot bagi mereka yang mungkin belum tahu tentang hal ini. Namanya juga Ngejot dan dilaksanakan setelah masak, maka sudah pasti yang menjadi sarana banten Ngejot ini adalah masakan yang dimasak pada hari itu juga yaitu masakan yang masih sukla atau belum sempat disantap oleh siapapun. Sarananya berupa Nasi dan lauk pauk yang dimasak pada hari itu juga dalam Ngejot ini tidak ada keharusan untuk menghaturkan lauk pauk tertentu, apa yang dimasak hari itu maka itulah yang dijadikan sarana Ngejot atau ada juga yang memakai nasi yang dimasak pada hari itu sedangkan lauknya hanya memakai kacang saur atau Krasmen dengan memakai daun pisang sebagai alasannya. 

Yadnya Sesa (Ngejot) yang sempurna adalah dihaturkan lalu dipercikkan air bersih dan disertai dupa menyala sebagai saksi dari persembahan itu. Namun yang sederhana bisa dilakukan tanpa memercikkan air dan menyalakan dupa, karena wujud Yadnya Sesa itu sendiri dibuat sangat sederhana. Dan kebanyakan Ibu-ibu memilih Ngejot dengan cara yang paling sederhana yakni tanpa percikan air dan tanpa dupa. Namun pada kenyataannya ada juga Mesaiban khusus yang disebut Mesodo yang ditujukan kepada leluhur yang dilakukan juga bersamaan saat Ngejot.

Contoh Banten Sodo sederhana di Desa saya sangat sederhana
Setelah kamu tahu makan dan tujuan Ngejot serta apa saja sarana untuk Mesaiban ini, tentu kamu juga harus tahu di mana saja kita harus Ngejot setelah selesai memasak. Tempat Menghaturkan Saiban atau Ngejot  ini terdiri dari 5 (lima) tempat penting yang dihaturkan Yadnya Sesa (Mesaiban), sebagai simbol dari Panca Maha Bhuta yang sebelumnya sudah pernah saya bahas tentang Pengertian dan bagian-bagiannya:
  1. Pertiwi (tanah), biasanya ditempatkan pada pintu keluar rumah atau pintu halaman.
  2. Apah (Air), ditempatkan pada sumur atau tempat air.
  3. Teja (Api), ditempatkan di dapur, pada tempat memasak (tungku atau Jalikan dalam bahasa Bali)) atau kompor.
  4. Bayu (Angin), ditempatkan pada beras, bisa juga ditempat nasi.
  5. Akasa (Unsusr panas), ditempatkan pada tempat sembahyang (pelangkiran, pelinggih dll).
Tempat-tempat melakukan Saiban jika menurut Manawa Dharmasastra adalah: Sanggah Pemerajan, dapur, Jeding atau geboh tempat air minum di dapur, batu asahan, lesung, dan sapu. Kelima tempat terakhir ini disebut sebagai tempat di mana keluarga melakukan Himsa Karma setiap hari, karena secara tidak sengaja telah melakukan pembunuhan binatang dan tumbuhan di tempat-tempat itu.

Apakah saat menghaturkan Saiban ada doanya atau tidak? Sebenarnya atau mungkin secara gamblang saat Ngejot banten saiban itu cuma ditaruh saja dengan sedikit ngayab dengan tangan tanpa mengucap Mantra? Sebenarnya ada mantra khusus yang bisa diucapkan dalam hari ketika melaksanakan Ngejot ini. Berikut adalah beberapa Mantra khusus saat Ngejot.

Yadnya Sesa atau Ngejot yang ditujukan kepada Hyang Widhi melalui Ista Dewata (ditempat air, dapur, beras atau tempat nasi dan Pelinggih atau Pelangkiran doanya adalah:
OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA DEWA SUKHA PRADHANA YA NAMAH SWAHA.
Artinya: Om Hyang Widhi, sebagai paramatma daripada atma semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud Dewa.

Yadnya Sesa yang ditujukan kepada simbol-simbol Hyang Widhi yang bersifat Bhuta, Yaitu Yadnya Sesa atau Ngejot yang ditempatkan pada pertiwi atau tanah doanya:
OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA BHUTA,KALA,DURGHA SUKHA PRADANA YA NAMAH SWAHA.
Artinya: Om Sang Hyang Widhi, Engkaulah paramatma daripada atma, semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud bhuta, kala dan durgha.

Itulah penjelasan singkat dari Mebanten Saiban atau Ngejot yang dilaksanakan setelah selesai masak, bagi Ibu-ibu atau calon Ibu atau siapa saja yang akan melaksanakan Ngejot maka mulai sekarang bisa menggunakan Mantra di atas. Sekian ulasan kali ini tentang Makna Ngejot Menurut Hindu Bali, semoga bermanfaat, jika ada yang kurang maka silakan berikan komentar pada kolom komentar yang sudah tersedia, terima kasih. Om Santhi, Santhi, Santhi Om.
Advertisement
BERITA TERKAIT :

0 Response to "Makna Ngejot Menurut Hindu Bali"

Post a Comment

Silakan berikan komentar Anda dengan baik, silakan gunakan Bahasa Indonesia dengan baik supaya mudah dibaca oleh pengunjung lain, terimakasih