Memberi Efek Malu dan Jera Bagi Para Koruptor

Advertisement
Advertisement

Negara Indonesia adalah negara yang kaya raya baik dari segi Sumber Daya Alam (SDA) maupun dari segi Sumber Daya Manusia (SDA) semua itu berlimpah dari Sabang sampai Merauke yang seharusnya dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran Rakyat. Sejak merdeka tahun 1945 sampai saat ini Indonesia masih ber predikat sebagai negara berkembang dimana tingkat kesejahteraan masyarakatnya masih rendah bila dibandingkan dengan Negara asia lainnya.

Kondisi ini mungkin disebabkan oleh belum maksimalnya pengelolaan SDA oleh pemerintah sehingga tidak bisa memberikan pendapatan yang maksimal bagi negara,  disamping belum maksimalnya pengelolaannya mungkin juga disebabkan oleh rendahnya SDM sehingga belum mampu mengolah SDA yang ada untuk bisa menghasilkan nilai ekonomi. Pemerintah yang cenderung pro terhadap kapitalis membiarkan sektor-sektor fital dikuasai oleh pemilik modal besar dan mengeksploitasi habis-habisan sehingga rakyat hanya bisa melihat dan menjadi buruh kecil dengan penghasilan yang kecil pula.  

Pemerintah yang asik bermain-main dengan modal besar kadang melupakan kewajibannya untuk mensejahterakan rakyat, dimana kadang ada permainan diantara mereka untuk bisa meraih untung untuk keperluan sendiri atau kelompok tertentu, dengan menghalalkan segala cara.  Inilah yang menyebabkan kebocoran dimana-mana dan sepertinya sektor pertambangan yang dikatakan paling banyak dibocorkan dan diselewengkan.

Penyelewengan bisa terjadi dimana saja bukan hanya sektor tertentu, banyak instansi pemerintah yang korup sehingga merugikan negara sampai trilyunan rupiah. Korupi ini sungguh sudah sangat memprihatinkan, para koruptor tidak tanggung-tanggung mengelapkan uang negara, Saya tidak akan banyak mengambil contoh, yang dulu sampai sekarang tidak ada kabarnya adalah kasus Bank Century, KPK seolah-olah tidak mampu mengungkap masalah ini.

Berlanjut ke kasus yang lainnya adalah Korupsi kepolisian dalam kasus pengadaan alat simulator SIM (Surat Izin Mengemudi) yang melibatkan petinggi Polri yang juga menyebabkan perseteruan antara KPK dan Polri dalam kasus siapa yang pantas menangani kasus Korupsi Simulator SIM tersebut. Pada akhirnya Presiden pun turun tangan dan menetapkan bahwa KPK lah yang berhak melakukan penyelidikan terhadap Kasus Simulator SIM.

Berlanjut ke kasus kelas kakap lainnya adalah Korupsi yang terjadi pada Proyek Hambalang, dalam kasus ini banyak kader-kader dari partai pemerintah atau Partai Demokrat yang terjerat dan menjadi tersangka, ada beberapa nama yang sudah terjerat seperti Nazarudin dan Angelian Sondakh dan yang paling terakhir KPK mencekal Menpora yang masih aktif Andy Malarangeng untuk tidak bisa ke Luar negeri, dan pada akhirnya pun Pak Menteri lebih memilih untuk mengundurkan diri, dan banyak yang memuji sikap Andy itu dengan menyebut bahwa perbuatan atau sikap pengunduran dirinya itu adalah sikap seorang Negarawan sejati dan patut diberi apresiasi, Mungkin itu beberapa contoh yang bisa saya sebutkan masih banyak kasus korupsi yang ada dipusat dan daerah-daerah yang telah merugikan negara.

Begitu banyaknya para koruptor dinegeri ini, saya menjadi prihatin dengan keadaan negeri ini, seolah-olah koruptor tersebut tidak punya rasa malu, Korupsi sepertinya menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan jika menjabat dinegeri ini. Seprtinya mereka menjabat bukan untuk mencari prestasi melainkan untuk korupsi, Begitu tebalnya muka para koruptor cahaya kamera media yang meberitakan merekan seperti tidak menyilaukan mata mereka sepertinya mereka terlalu silau dengan harta negara yang mereka korupsikan.

Pemerintah tidak berani memberikan hukuman mati pada para koruptor, untuk memakaikan baju tahanan pun tidak berani kepada para koruptor, tetapi saat ini sedang dibahas warna baju untuk tahanan koruptor, ada yang memilih putih dan ada pula yang hitam, inilah Indonesia penjahat itu ibarat pejabat yang membuat kita harus hormat, meskipun sudah menjadi tersangka korupsi. Mungkin inilah yang menyebabkan semakin banyaknya muncul koruptor-koruptor baru.

Untuk mencegah munculnya koruptor-koruptor baru, pemerintah harus berani memberikan efek jera atau malu bagi mereka yang sudah menjadi tersangka dan dijatuhi hukuman, selama ini hukuman bisa dibilang ringan sehingga para koruptor berani kosupsi tanpa menanggung malu dan bisa hidup enak dan kaya raya. Melihat dari hukuman yang diberikan memang bisa terbilang ringan, maka dari itu mereka bisa diberikan hukuman lain berupa efek malu.

Efek malu ini adalah memberikan penghargaan pada para koruptor terhadap perbuatan korupsi yang mereka lakukan dengan menjadikan mereka sebagai koruptor nasional atau koruptor daerah, sama halnya dengan Pahlawan. Mungkin caranya adalah Presiden meberikan predikat Koruptor kepada mereka yang sudah menjadi tersangka dan sudah menjalani hukumannya. Sama halnya seperti Pahlawan, Foto mereka dipajang di tembok-tembok kelas atau di kantor-kantor isntansi pemerintah, dan buatlah mata pelajaran Sejarah dan biografi para koruptor yang telah merugikan negara, mungkin dengan cara demikian para koruptor itu benar-benar malu dan calon-calon koruptor berfikir 1000 kali untuk melakukan tindak korupsi. Mungkin ini hanya ide yang tak mungkin dan mustahil, tetapi ini ide yang peduli dengan kondisi negara ini, saya berharap Indoesia menjadi negara yang jauh lebih baik dari sekarang, semoga ada aparat pemerintah yang membaca coretan ini, mungkin hanya itu yang bisa saya tulis semoga bermanfaat dan saya ucapkan terimakasih.
Advertisement
BERITA TERKAIT :

0 Response to "Memberi Efek Malu dan Jera Bagi Para Koruptor"

Post a Comment

Silakan berikan komentar Anda dengan baik, silakan gunakan Bahasa Indonesia dengan baik supaya mudah dibaca oleh pengunjung lain, terimakasih