Rahajeng Nyangra Rahina Galungan lan Kuningan

Advertisement
Advertisement



Galungan adalah hari raya umat Hindu yang di rayakan setiap enam bulan sekali yang jatuh pada Buda Kliwon Dungulan, dimana pada hari ini adalah perayaan kemenangan Dharma atas Adharma yang sebelumnya terjadi rangkaian hari sebelum galungan. Saya tidak akan membahas rangkaian hari raya Galungan tersebut untuk lebih jelasnya tentang rangkaian Hari Raya Galungan silahkan baca disini, karna saya yakin semua umat Hindu sudah tahu. Disini saya akan lebih membahas suasana hari raya Galungan yang dialami dari tahun ke tahun.

Seperti tulisan saya yang terdahulu yang berjudul Galungan sehari sungguh berarti disana banyak saya ceritakan suasana Galungan yang sudah lewat, saat ini saya mencoba untuk bercerita tentang kebiasaan orang dikala hari raya Galungan, mungkin hanya sedikit yang bisa saya ceritakan karna saya akan menceritakan apa yang saya lihat dan tidak berdasarkan hal-hal yang mungkin ada ditempat anda.

Galungan kali ini akan jatuh tepatnya pada Hari Rabu tanggal 29 Agustus 2012 dan Kuningan jatuh pada Hari Sabtu tanggal 8 September 2012, hampir dari H-7 suasana Galungan sudah terasa dimulai mengatur jadwal libur bersama teman-teman kantor, berapa hari libur dan mau kemana saja selama liburan. Suasana juga mulai terasa saat membuat jajan khas Galungan oleh ibu-ibu seperti Satuh dan Dodol, dimana kedua Jajan itu harus ada setiap hari raya Galungan dan Kuningan, tetapi saat ini kebanyakan orang yang membeli satuh atau dodol yang sudah jadi, dan saya pun jarang merasakan lagi makan dodol yang masih hangat dari tempurung kelapa karna ibu saya tidak pernah membuat dodol lagi saat hari pembuatan jajan itu disebut Penyajaan yaitu dua hari sebelum Galungan tepatnya setiap hari senin sebelum Galungan dan pada hari ini juga para lelaki atau Bapak-bapak akan mempersiapakan hewan korban untuk disembelih besoknya pada hari Penampahan yaitu Babi.

Setelah hari penyajaan disebutlah Penampahan dari pagi pagi buta sudah banyak terdengar suara babi menjerit yang disembelih, daging babi itu akan digunakan untuk persembahan atau sebagian juga untuk dimasak untuk dimakan, dari sinilah suasana Penampahan sangat terasa, dimana hampir setiap rumah akan membuat masakan khas Bali seperti Lawar, Komoh, Jeruk, Lawar Getih dan lain-lain. Sangat senang rasanya bisa berkumpul bersama keluarga saat masak-masak seperti ini, mungkin jarang bisa berkumpul dengan keluarga karna tinggal berjauhan atau merantau, sungguh suasana yang sangat menyenangkan. Dihari penampahan juga adalah waktunya untuk menggarap penjor untuk dipajang didepan rumah, penjor Galungan yang dihias sedemikian rupa, merupakan simbol naga. Sanggah yang ditempatkan pada bambu penjor memakai pelepah kelapa adalah simbol leher dan kepala Naga Taksaka. Gembrong yang dibuat dari janur atau ambu menggambarkan rambut naga. Sampian penjor dengan porosannya, yang berbentuk melengkung, adalah ekor Naga Basuki (simbol gunung). Sementara hiasan penjor yang terdiri dari gantung-gantungan padi, ketela, jagung, kain, dan sebagainya, adalah simbol bulu Naga Ananta Bhoga sebagai tempat tumbuhnya sandang dan pangan, fungsi penjor ini adalah sebagai ucapan terima kasih ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mengutus Sang Hyang Tri Murrti untuk menolong umat manusia dari kelaparan dan bencana. Penjor upacara dengan tanda-tanda lengkap seperti di atas tidak boleh digunakan kecuali untuk upacara. Sedangkan pepenjoran (penjor hiasan) hendaknya jangan memakai gantung-gantungan hasil bumi, sanggah, dan sampian penjor yang berisi porosan.

Setelah penampahan tibalah saatnya Hari Raya Galungan hari ini adalah hari dimana dari pagi orang-orang sudah sibuk, terutama ibu-ibu yang sibuk menyiapkan banten untuk dihaturkan disana-sini, mulai dari sanggah paling kecil yang berada dirumah sampai sanggah atau merajan dan pura yang ada didesa. Sebenarnya banyak sekali kegiatan sosial yang dilakukan disini, seperti berkunjung kerumah asal orang tua atau silahturahmi, atau meberikan ejotan pada mereka yang pertama kali punya anak dan pertama kali bertemu dengan galungan, Ada juga para perantau yang tidak bisa pulang kampung, mereka biasanya bersembahyang dipura Jagatnatha, disana akan banyak sekali umat Hindu yang melakukan persembahyangan dari padi sampai siang, semakin sore suasana Galungan pun semakin pudar.

Keesokan harinya setelah Galungan disebut dengan Manis Galungan, nah pada hari ini adalah hari yang dipakai untuk melali atau mencari hiburan atau berkunjung ke tempat wisata, pada hari ini biasanya sangat dimanfaatkan oleh kaum muda-mudi untuk jalan-jalan baik yang seorang diri, berpasangan dan beramai-ramai. Memang terasa sangat menyenangkan bila bisa berkumpul dengan keluarga atau teman-teman tetapi ada beberap hal yang membuat saya tidak suka saat Manis Galungan, seperti yang saya rasakan saat manis Galungan enam bulan yang lalu, yang paling menonjol adalah, banyaknya Geng Motor yang Berkumpul atau konvoi dijalan dan berkumpul pada satu tempat tertentu, Mereka konvoi dengan suara kendaraan yang bising, melakukan atraksi ditempat-tempat tertentu, sehingga mengganggu lalulintas, tempat-tempat yang paling sering menjadi tempat mangkal mereka adalah, Jembatan Bangkung disana akan banyak sekali terdapat Gang Motor yang ngumpul, entah dari mana datangnya, Selain itu jalanan tempat wisata seperti Bedugul dijamin akan macet parah, jadi jika ingin lewat jalan tersebut maka pikir terlebih dahulu.

Mungkin hanya demikian yang bisa saya ceritakan tentang Galungan dan Kuningan, semoga bisa bermanfaat untuk semuanya, sekian dan terimakasih.
.

Advertisement
BERITA TERKAIT :

1 Response to "Rahajeng Nyangra Rahina Galungan lan Kuningan"

  1. Terima kasih tulisannya sangat membantu memahami hari2 besar umat hindu , saya tinggal dibali dan harus faham dgn adat istiadat setempat.... Sekali lagi terima kasih....

    ReplyDelete

Silakan berikan komentar Anda dengan baik, silakan gunakan Bahasa Indonesia dengan baik supaya mudah dibaca oleh pengunjung lain, terimakasih